Umroh Mengajarkan Sabar Lebih Baik daripada Seribu Nasihat
Sebelum berangkat, saya sudah sering mendengar kalimat ini: “Nanti di sana kamu bakal belajar sabar.” Diucapkan tetangga, ustaz di pengajian, sampai teman kantor yang baru pulang dari Tanah Suci. Saya mengangguk setiap kali, padahal dalam hati berpikir, ah, sabar kan konsep yang sudah saya paham sejak kecil.
Ternyata paham dan mengalami itu dua hal yang jauh berbeda.
Antrean yang Tidak Bisa Ditawar
Pelajaran pertama datang bahkan sebelum saya menginjak Makkah. Di bandara, antrean imigrasi mengular dan bergerak seperti siput. Badan saya sudah pegal setelah belasan jam di pesawat, tas jinjing terasa makin berat, dan orang di depan saya sibuk mencari paspor yang entah terselip di mana.
Biasanya, di Indonesia, saya akan mencari celah, pindah barisan, atau minimal menghela napas keras-keras supaya orang sekitar tahu saya kesal. Di sana, semua itu tidak berguna. Petugasnya tenang, antreannya panjang, dan yang bisa saya atur hanya satu hal: isi kepala saya sendiri.
Saya ingat memandangi seorang bapak tua di sebelah saya. Ia berdiri dengan tongkat, napasnya sedikit berat, tapi wajahnya teduh sekali. Tidak ada keluhan. Ia malah sempat tersenyum dan menawarkan saya duduk di kursi lipatnya. Saya malu sendiri. Rasa kesal saya mendadak terasa kecil.
Tawaf yang Tidak Seperti Bayangan
Saya sempat membayangkan tawaf itu khusyuk dan syahdu, seperti di video-video yang sering lewat di ponsel. Kenyataannya, lautan manusia dari seluruh penjuru dunia bergerak bersamaan. Ada yang berdesakan, ada yang tersenggol lalu terdorong, ada yang tiba-tiba berhenti persis di depan kita.
Di putaran kedua, seseorang menyikut pinggang saya cukup keras. Refleks, saya ingin menoleh dengan tatapan tidak senang. Tapi saya lihat orangnya juga sedang terhimpit, wajahnya sama lelahnya dengan saya. Tidak ada niat jahat di sana. Hanya manusia yang sama-sama ingin sampai ke tujuan yang sama.
Saat itulah saya mulai paham. Di Tanah Suci, kita tidak bisa mengontrol orang lain. Yang bisa dikontrol hanya reaksi kita sendiri. Dan reaksi itu, ternyata, bisa dilatih langkah demi langkah.
Sabar Itu Dilatih, Bukan Dihafal
Banyak nasihat tentang sabar yang pernah saya dengar terdengar indah, tapi tidak pernah benar-benar menempel. Mungkin karena nasihat sering datang di saat kita sedang tenang. Padahal sabar hanya diuji ketika kita lelah, lapar, kepanasan, dan keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Umroh menyediakan semua itu dalam satu paket:
- Jadwal bus yang molor satu jam, lalu dua jam
- Kamar hotel yang belum siap padahal badan sudah ingin rebah
- Sa’i di bawah lampu terang ketika kaki mulai gemetar
- Teman sekamar dengan kebiasaan yang berbeda dari kita
Tidak ada seminar yang bisa menggantikan pengalaman semacam itu. Setiap kali emosi muncul, kita seperti diberi pilihan kecil: mau marah, atau mau menarik napas dulu? Awalnya sulit. Lama-lama, pilihan kedua terasa semakin ringan.
Pelajaran dari Hal Paling Sederhana
Yang paling membekas bagi saya justru momen-momen kecil. Menunggu giliran wudhu dengan sabar. Merelakan tempat shaf kepada jamaah lansia. Menahan diri untuk tidak berkomentar ketika rombongan lain datang terlambat dan kami jadi ikut tertahan.
Di rumah, hal-hal seperti itu sering lolos dari perhatian. Di Tanah Suci, semuanya terasa lebih jelas, mungkin karena hati kita sedang lebih terbuka. Setiap gesekan kecil seolah menjadi cermin: seberapa sabar sebenarnya diri ini?
Saya juga belajar bahwa sabar bukan berarti diam dan pasrah tanpa perasaan. Ada hari ketika saya benar-benar capek dan ingin menangis. Sabar yang saya temukan di sana lebih mirip kesediaan untuk tetap melangkah sambil tetap jujur pada rasa lelah, tanpa menyalahkan siapa pun.
Yang Dibawa Pulang
Sekembalinya ke tanah air, tentu saya tidak langsung jadi orang yang selalu sabar. Macet di jalan raya masih membuat dahi saya berkerut, dan balasan chat yang lama masih bisa memancing jengkel.
Bedanya, sekarang ada jeda. Sepersekian detik sebelum bereaksi, saya teringat bapak tua dengan tongkatnya di antrean imigrasi, dan wajah-wajah lelah di putaran tawaf yang sama-sama sedang berjuang. Jeda kecil itu sering cukup untuk mengubah arah sebuah hari.
Mungkin begitulah cara umroh bekerja. Ia tidak menceramahi kita. Ia hanya menaruh kita di situasi yang memaksa kita belajar, lalu pelan-pelan, tanpa terasa, sifat itu ikut pulang bersama kita.
Jadi kalau suatu hari ada yang bilang, “Nanti di sana kamu belajar sabar,” sekarang saya tidak lagi mengangguk sekadar sopan. Saya ingin menjawab: iya, dan itu pelajaran yang tidak akan terlupa, karena kita tidak sekadar mendengarnya. Kita menjalaninya sendiri.